Handycraft

September 27th 2013

 Kerajinan Perak Kotagede

Kerajinan Perak Jogja Expo center

 

Kotagede terkenal sebagai kota perak tidak hanya di Indonesia, tetapi juga diseluruh dunia. Pada abad ke-18, Istana Mataram Kotagede ditunjuk sebagai pusat kerajinan perak untuk memenuhi kebutuhan istana. Akibatnya karya seni rupa dan ukiran yang diproduksi di kota telah kompleks dan berkualitas tinggi. Para pengrajin perak Kotagede mengalami puncak pengalaman mereka ketika mereka go internasional pada tahun 1930-an.

Hal ini berkat Mrs Maria Agnes Van Gesseler Versvir, istri dari Gubernur Hindia Timur Belanda yang memegang kekuasaan di Yogyakarta 1929-1932. Wanita Belanda itu begitu terkesan dengan kerajinan perak Kotagede lalu dia memesan dalam jumlah besar untuk dikirim ke Belanda. Drs Pim Westerkamp MA, kurator Budaya Asia Tenggara dan Sejarah di Tropenmuseum di Belanda, mengatakan bahwa di Tropenmuseum Belanda saat ini disimpan sedikitnya 62.000 contoh kerajinan perak Kotagede dari Yogyakarta, meliputi perak yang diproduksi antara tahun 1929 dan 1932.

Koleksi kerajinan perak termasuk mangkuk perak, piring kue, cangkir set dan teko, cangkir anggur dan masih banyak lagi. Sebagian besar koleksi mengusung motif relief Candi Prambanan, Boko Ratu, Masjid Mantingan Jepara, motif dari Sumatera Barat dan dari tempat lain. Pada tahun 1930, semua industri kerajinan perak mengalami pertumbuhan.

Segera setelah Indonesia merdeka, kejayaan perak Kotagede di kancah internasional mulai memudar, terutama setelah konfrontasi dengan Malaysia, diikuti dengan ketika Indonesia meninggalkan PBB dan peristiwa 30 September 1965.

Pada tahun 1970-an, setelah situasi politik mulai stabil, perak Kotagede kembali dikenal lagi karena Indonesia membuka pintu bagi dunia luar, terutama melalui sektor pariwisata, kerajinan perak menjadi populer di kalangan konsumen dan pebisnis perhiasan, dan dipasarkan oleh toko-toko seni di daerah Kotagede. Hasilnya sangat menguntungkan dan standar hidup masyarakat meningkat, sehingga hampir seluruh masyarakat Kotagede kemudian mengandalkan hidupnya dari membuat kerajinan perak. Sayangnya, dari waktu ke waktu, dan terutama sejak awal 1990-an, kerajinan perak di Kotagede industri tidak lagi lazim. Guncangan terhadap perekonomian dari krisis moneter tahun 1998, gempa bumi 2006, kenaikan harga BBM dan krisis global 2007-2008, telah membuat industri kerajinan perak Kotagede tampaknya siap untuk menyerah. Benda karya seni perak dengan ukiran  khas Kotagede yang merupakan warisan budaya Kotagede kini jarang ditemukan di etalase penjual perak.

Pergeseran dari seni untuk produksi massal dimulai pada krisis ekonomi 1998. Rupiah yang melemah juga menaikkan harga bahan baku perak sementara pada saat yang sama juga menekan daya beli konsumen. Permintaan lebih besar untuk barang rumah tangga seperti perangkat makan, mangkuk, perangkat minum teh dan kerajinan berukuran besar. Karena biaya bahan baku yang tinggi, semua industri kerajinan harus berpikir pragmatis. Mereka beralih ke produk massal yang membuat manufaktur sederhana dan harganya pun relatif terjangkau untuk konsumen di pasar pariwisata domestik. Namun, pasar konsumen masih terbatas pecinta seni. Masih relatif sedikit pembeli seni di Indonesia, kebanyakan pelanggan berasal dari luar negeri.

Pasar untuk kerajinan perak yang dirancang dengan pengerjaan yang halus masih terbuka, terutama untuk ekspor ke negara-negara Eropa, Amerika, Australia dan Asia Timur. Pelanggan di negara-negara tersebut sangat tertarik dengan produk seni Kotagede perak, terutama yang dibuat dengan baik dan dengan karakteristik individu.

Anda Pengunjung Ke:

161134
Temukan kami di Facebook Temukan kami di Twitter Temukan kami di Foursquare Temukan kami di Linkedin Temukan kami di Flickr Temukan kami di YM